Cahaya pesisir meredup, ia berjalan dengan kebimbangan yang sangat luar biasa.
Langkahnya semakin berat, ketika menengok ke belakang ia hanya merasakan sesak.
Ingin bebas derapnya semakin cepat.
Bibir pantai merengkuhnya, ia malah terjatuh dalam khayalan.
Kebahagiaan saat bergandengan tangan, senyuman yang menenangkan.
Namun mimpi hanyalah sekedar mimpi, ia tersadar ombak telah menyingkir.
Sesuatu yang akan membawanya pergi telah sampai di depan matanya.
Ia pun menggapainya, dirasakannya tenteram dan hangat.
Apakah ini adalah kebahagianku? Pikirnya.
Ia mendapat keyakinan, kapal berangkat menuju barat.
Namun pandangannya tidak beralih, hatinya merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan dari terjatuh.
Ia mencengkeram dengan kuat hingga berdarah-darah.
Yang ada di tangannya, kerang-kerang kenangan telah melukainya.
Merasakan kehilangan, amat sangat dalam.
Perasaannya tidak lega dan tidak hampa.
Ia merasa kehilangan namun ia sadar, dirinya sudah tidak bisa kembali ke tempatnya.

Untukmu terima kasih sudah pernah menjadikanku sebagai inspirasi tulisanmu, meski tentang kesedihan aku tetap bahagia membacanya. Terima kasih pula sudah pernah mencintaiku di mau ku cintai meski akhirnya kita tak mampu melawan takdir, sekarang carilah bahagiamu atau kamu sudah menemukanya, ku harap begitu. Bungaku yang akan mekar maaf atas ketidakberanianku untuk mencoba,biarkan aku merasakan patah hati terkahir di hari bahagiamu kelak. Jadilah bunga paling indah untuk lelakimu. Terima kasih untuk 10 tahunya 😊
BalasHapus