Senin, 28 November 2022

Dia Telah Berangkat



Cahaya pesisir meredup, ia berjalan dengan kebimbangan yang sangat luar biasa.

Langkahnya semakin berat, ketika menengok ke belakang ia hanya merasakan sesak.

Ingin bebas derapnya semakin cepat.

Bibir pantai merengkuhnya, ia malah terjatuh dalam khayalan. 

Kebahagiaan saat bergandengan tangan, senyuman yang menenangkan.

Namun mimpi hanyalah sekedar mimpi, ia tersadar ombak telah menyingkir. 

Sesuatu yang akan membawanya pergi telah sampai di depan matanya.

Ia pun menggapainya, dirasakannya tenteram dan hangat. 

Apakah ini adalah kebahagianku? Pikirnya.

Ia mendapat keyakinan, kapal berangkat menuju barat. 

Namun pandangannya tidak beralih, hatinya merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan dari terjatuh. 

Ia mencengkeram dengan kuat hingga berdarah-darah.

Yang ada di tangannya, kerang-kerang kenangan telah melukainya. 

Merasakan kehilangan, amat sangat dalam.

Perasaannya tidak lega dan tidak hampa. 

Ia merasa kehilangan namun ia sadar, dirinya sudah tidak bisa kembali ke tempatnya.

Jumat, 09 November 2018

Memulai ?

 
 
 
 
Aku tidak tahu harus memulai tulisan ini dari mana. Aku bahkan tidak tau harus kusebut apa tulisan yang hanya tertuang begitu saja tanpa pemilihan diksi yang indah seperti penulis-penulis lainnya. Teruntuk seseorang? Hmm.. kurasa tidak juga. Iya begitu saja. Aku suka berbicara, namun terkadang tidak semua orang suka mendengar apa yang aku sampaikan. Dari mana aku tau? Tentu saja dari tanggapan yang mereka berikan. Yaa.. barangkali bercerita memang tidak seharusnya membutuhkan tanggapan, karena tujuan dari bercerita itu hanya untuk didengar, bukan?

Dan hanya dengan menulis tentu saja keinginanku untuk didengar tidak sepenuhnya terpenuhi, karena tulisan ini hanya bisa dibaca; barangkali pun hanya olehku saja. Tapi setidaknya ada sesuatu yang berbeda, ketika aku berhasil menuliskan kata-kata yang ingin aku ucapkan; ketika sesuatu itu dapat tersampaikan. Tidak hanya tersimpan di dalam pikiran kemudian menjadi beban hati yang juga terkadang menyebabkan tangisan. Meskipun kata-kata itu hanya terbaca olehku, tapi aku senang membaca tulisanku; membaca hasil usaha keras untuk mengeluarkan sedikit banyaknya beban yang tak tersampaikan kepada siapapun.

Jadi, kali ini aku harus memulai dari mana?
(Padahal sudah kumulai πŸ˜€hehe)

AA, 21:22

Rabu, 23 September 2015

Waktu

Tentang waktu..
Andai aku tahu,
Tapi semuanya sudah belalu.
Andai bisa ku ulang lagi masa itu,
Namun itu hanyalah sebuah harapan yang semu.
Karena waktu tak akan mampu berjalan mundur.

Andai aku tahu,
kala itu adalah saat-saat terakhir bersamamu.
Kebersamaan kita.
Saat kita berada dalam satu ikatan waktu.
Yang sudah pasti, kini tak bisa ku harapkan lagi.

Waktu memberi kesempatan baru,
Aku harus mampu.
Menepis kesedihan atas ketiadaan.
Bertahan dan memulai harapan baru.
Haruskah aku menyesali keadaan itu?
Harusnya tidak. Ikhlas adalah sebuah keharusan atas diriku.

Waktu memberi pelajaran pada kita semua.
Segala hal yang sudah dimakan waktu  akan habis dengan sendirinya.
Yang tersisa hanya sesuatu untuk dikenang dan direnungkan.
Yang sudah berlalu biarlah tersimpan. Kita jadikan landasan untuk bertahan.
Memulai langkah demi langkah tanpa melupakan.
Karena sejatinya waktu adalah rahasia.
Yang bagi siapa pun adalah sebuah misteri dalam cerita.

Kini sudah habis masanya kebersamaan kita. Semoga kau tenang di sana, dan aku bisa ikhlas menerima semuanya. #AA



AA

Minggu, 20 September 2015

Pada Akhirnya

Pada akhirnya
Aku memang harus menyerah menyalahkan
Aku harus mengalah
Aku yang salah
Karena memang pada dasarnya
Dia tak pernah memiliki perasaan yang sama
Terimakasih kau telah mengaggapku ada
Memberikan aku kesempatan untuk rasakan kebersamaan kita
Memendam segala asa
Mengabaikan segala logika
Kini sudah hampir habis masanya
Segala perasaan yang kupunya,
Kini harus dipendam sedalam-dalamnya
Aku tak akan memaksa hatiku melupakannya
Karena aku sempat bahagia juga karenanya
Akan kubiarkan semua mengalir apa adanya
Yang kubutuhkan mungkin waktu, mengaggap semua hal yang dulu kuanggap biasa karena cinta
Kink harus dirubah pemahamannya
Terimakasih, untuk semuanya, kangπŸ˜‚

Jumat, 18 September 2015

Sakit Lagi

Aku merasakannya lagi, sesuatu yang sebenarnya aku benci.
Namun selalu aku nikmati dengan hati tanpa kendali.
Aku masih tersesat, tolong bantu aku mencari jalan.
Tapi jangan tarik aku, aku takut terbawa dunia yang baru.
Meski baru, namun akhirnya akan tetap seperti itu.
Aku takut terjatuh pada perasaan yang utuh, lama kelamaan akan terkikis dan akhirnya mencari dan berganti lagi.
Namun kini aku rasakan derita menahan diri.
Dari rasa iri juga benci.
Aku ingin menjaga perasaan ini sampai nanti.
Karena aku lelah mencari ataupun nantinya juga pergi.
Tapi hati ini tetap ingin diakui. Lalu bagaimana dengan akhirnya nanti?
Ah, kau bertanya lagi?
Tunggu saja hingga saatnya nanti, ketika hati ini benar-benar ikhlas menerima kekurangan diri.
Ketika perasaan ini menjadi suci karena ridho sang Illahi.
Semoga saat nanti, semua akan berbalik pada suatu hal yang terbaik. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜Š

Jumat, 21 Agustus 2015

Kamu^^

Kamu, Keindahan yang bisa kunikmati secara nyata, jelas, dan dekat. Kau juga memberikan kenyamanan yang membuatku tak bisa menahan senyum saat mengingatnya. Tapi, itu dulu.. Tidak, sekarang. Kamu, tidaklah jauh, namun hatiku sakit saat mengingatmu. Kamu yang rasanya semakin jauh, menemukan sosok lain yang bisa mengisi hari-harimu. Bahkan kamu lah yang mengisi hari-harinya. Aku, kamu mungkin tidak melupakan aku, tapi itu saat ini.. bagaimana nantinya? Saat kau sudah jauh.. saat lingkungan kita sudah tak lagi sama. Semuanya akan berubah. Tidak usah menunggu nanti.. sekarang pun sudah berubah. Apakah ini hanya perasaanku saja? Tapi pada kenyataannya bukan hanya aku kan? Aku hanyalah salah satu diantara wanita-wanita yang kau beri ucapan manis yang sebenarnya memang sangat ampuh untuk meluluhkan hati para wanita. Tapi, disini aku merasa kecewa. Kenapa situasi kita tidak selalu tepat? Ah, bukan kita. Tapi aku. Aku yang terlalu bodoh memiliki perasaan kepadamu yang jelas-jelas tak mungkin kumiliki. Hahaha. Aku ingin tertawa, betapa menyedihkannya aku yang masih mempertahankan perasaan ini, untukmu.