Panggilan hatinya ia penuhi. Rindu akan tempat ini telah terobati.
Kembali gadis itu merasakan pikirannya tenang kembali.
Dari kejauhan sebelum kedatangannya, desiran ombak terdengar sayu membuatnya semakin rindu akan sosok baru.
Tubuh gadis itu hangat akan sinar mentari pagi.
Pasir di bawah kakinya terkikis pelan oleh ombak yang melewati.
Tentang rasa.
Di sini, tempat terakhir ia mengukir sebuah nama,
yang kini dihapus ombak juga masa.
Takut.
Pikirannya buyar kala itu.
Ada sesuatu yang membuatnya sulit bernafas,
Dadanya terasa sesak.
Berkali-kali gadis itu mencoba menghilangkan kegelisahan di hatinya.
Namun ia hanya bisa menghela nafas, berdoa kepada Tuhan agar nama baru yang ia ukir tak akan lalu bersama waktu.
Gadis itu tahu, bahwa ia harus menjadi batu.
Agar ombak tak akan membawa pergi puing harapannya.
Harapan baru bersama delusi waktu.
Pikiran dan hatinya berseteru, ia tak ingin menjadi abu seperti waktu lalu.
Gadis itu menyeka air matanya.
Menggerakan tangannya, menuliskan seluruh isi hatinya pada pasir kencana.
Meski ia tahu akan ada ombak yang menderu, gadis itu tak mau tahu.
Yang ada dipikirannya adalah,
Hatinya menerima, semuanya akan baik-baik saja :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar